Seperti sudah diatur Slash main tepat pada ulang tahun saya ke 40. Bersama seorang sahabat baik penggila segala jenis konser, kami berdua berangkat ke Istora. Demi kenyamanan kami makan malam sebelum berangkat di Marche. Tepat sebelum jam 7 kami menyusuri jalan belakang Plaza Senayan menuju Istora.
Masuk Pintu gerbang gelora Bung Karno, tampaklah barisan baju hitam-hitam yang ketara sekali sebagai penonton Slash berbondong menuju Istora. Kami berdua juga dengan semangat berjalan menyusuri kegelapan bergabung dengan rombongan pejalan kaki lainnya. Semakin dekat terdengar gonjang ganjing musik rock, entah mengapa adrenalin semakin tinggi. Atmosfir panggung rock selalu memberikan spirit sendiri buat saya.
Memperhatikan pengunjung yang ternyata lumayan dari segala umur, bahkan anak kecil, saya agak lega karena artinya ini bukan pertunjukan untuk kakek nenek. Banyak penonton memakai atribut rocker, entah mereka memang anak band atau cuman gaya saja, saya tidak tahu, don’t care don’t ask. Yang penting saya menikmati suasana yang hadir disitu. Energi kerinduan akan musik legendaris bagi kaum pecinta rock. Semua menjadi satu di udara.
Lagu Ghost membuka permainan Slash yang membawa Myles Kennedy vocalisnya Alter Bridge menjadi lead vokalnya selama tour album solonya. Selama 2 jam permainan yang memikat Slash hanya memainkan 3 buah lagu dari band lamanya Guns n Roses; Civil War, Sweet Child of Mine dan Paradise City. Lagu yang terakhir memang ada di albumnya hanya saja dinyanyikan oleh Fergie.
Saya terhenyak kagum ketika Slash memainkan solo ‘Speak Sofly Love’ yang merupakan soundtrack dari Godfather. Tentu saja dimainkan dengan style hard rocknya. Masih belum habis rasa “I’m not worthy” saya, Slash langsung memainkan Sweet Child of Mine tanpa jeda dari lagu sebelumnya. Sontak seluruh ruangan bergetar dan saya tidak bisa tidak untuk ikut meloncat dan menghirup energi Rock n Roll yang serta merta tersebar. Believe the next two days later kaki saya masih terasa sakit karena loncat2 gila sepanjang lagu itu.
Konser diakhiri dengan lagu Paradise City yang juga disambut dengan teriakan histeris penonton. Tak bias dupungkiri penonton masih belum bisa memisahkan Slash dengan Guns N’ Roses. Slah boleh tidak suka diasosiasikan dengan Band lamanya, tapi kenyataanny penonton yang hadir pastinya hampir semua penggemar Guns N’ Roses.
Bagi saya ini adalah kali keduanya saya menonton Slash. Pertama kalinya pada waktu Slash masih di Guns n Roses pada tahun 92/93 di Frankfurt, tepatnya tidak ingat kapan. Saya yang pada waktu itu bekerja di Hamburg, harus ijin pulang cepat untuk mengejar kereta ke Frankfurt. Saat itu ICE masih jarang, kereta tercepat ke Franfure memakan waktu hampir 5 jam.
Perjalanan yang saya lalui hampir sama, yaitu saya harus berjalan agak jauh dari tempat berhenti tram ke lokasi konser. Bedanya saat itu saya sendiri. Tapi kemudian membuat saya berpikir bahwa dari dulu saya hampir selalu melakukan kesenangan saya seorang diri. Sekarangpun hampir 20 thn kemudian saya hanya ditemani seorang teman karena dari crowd saya tidak ada yang berminat untuk menonton Slash.
Pada akhirnya saya berpikir konser ini mengingatkan saya sebuah perjalanan sampai umur 40 tahun. Seperti perjalanan seorang Slash yang lebih dikenal dengan Guns N’Roses nya dan sampai saat ini konsernya juga untuk membuktikan bahwa Slash bisa mandiri. Perjalanan itu masih panjang, begitu juga perjalanan saya; baru saja dimulai.
Recent Comments