Archive for the ‘Me & Myself’ Category

back to europe

Posted by: mindtraveler

Setelah 10 tahun saya akhirnya kembali Eropa. Kebetulan kantor pusat di Den Haag mengadakan finance training. Kebetulan pula trainingnya diadakan dua minggu sebelum lebaran sehingga setelah training saya bisa mengambil cuti cukup 3 hari saja karena disambung dengan libur lebaran.

 

Sudah dua hari ini di Den Haag saya habiskan waktu dengan mengelilingi pusat kita berjalan kaki. Sampai saat saya menuliskan ini saya belum sekalipun naik kendaraan umum selama di kota ini kecuali ketika dating dari stasiun ke hotel.

 

Tadi siang saya menyempatkan diri untuk makan siang bersama seorang ex kolega dan juga teman baik saya di dekat stasion. Pertemuan kami sangat mengharukan, saya tidak menyangka saya akan segirang itu bertemu dengannya.  Sebenarnya kami baru akan bertemu pada hari Sabtu, dia mengundang saya untuk tingal di rumahnya.

 

Sore tadi setelah beristiraha sejenak di hotel karena badan saya agak sakit, saya melakukan kembali kesukaan lama saya. Melamun di tempat yang memiliki arah pandangan luas. Tempat yang saya pilih adalah Binnenhof yang juga terletak di pusat kota. Disana ada danau yang bisa saya gunakan sebagai “point of interest” pada saat saya daydreaming.

 

Tidak ada sesuatu yag lebih mengasyikkan daripada berangan-angan di suatu tempat indah yang cuacanya mendukung pula. Kebetulan pula saat ini udara di Eropa sedang berkisar antara 14 – 18 derajat. Rasa dingin yang sempurna untuk berjalan kaki. Europe here I am.

 

Again Me vs my weight

Posted by: mindtraveler

Setelah hampir 4 bulan tidak pergi ke kelas bikram yoga, akhirnya tadi saya memberanikan diri untuk mengikutinya lagi. Saya memberanikan diri untuk menghirup udara panas itu, menekuk badan sampai sakit.

Selama 90 menit saya serasa berada di neraka. Hoaah beginilah jadi perempuan, susah banget mau menurunkan berat badan. Kenekatan saya malam ini karena tadi pagi menimbang dan hasilnya naik 5 kilo dalam tempo 4 bulan.Yah kali ini saya harus mengakui kenaikan 5 kilo itu memang ada andil saya sebagai food lover yang terlalu addicted to food.

Alhasil, selama yoga ada beberapa pose yang membuat saya menyadari lingkar perut memang sudah waktunya dikecilkan. Mengesalkan saya bahkan tidak bisa melakukan pose favorit saya karena lemak2 itu menghalangi kelenturan yang pernah saya miliki.

Ohhh no again, me vs my weight.

being 40 & Slash

Posted by: mindtraveler

slash2.jpgSeperti sudah diatur Slash main tepat pada ulang tahun saya ke 40. Bersama seorang sahabat baik penggila segala jenis konser, kami berdua berangkat ke Istora. Demi kenyamanan kami makan malam sebelum berangkat di Marche. Tepat sebelum jam 7 kami menyusuri jalan belakang Plaza Senayan menuju Istora.

 

Masuk Pintu gerbang gelora Bung Karno, tampaklah barisan baju hitam-hitam yang ketara sekali sebagai penonton Slash berbondong menuju Istora. Kami berdua juga dengan semangat berjalan menyusuri kegelapan bergabung dengan rombongan pejalan kaki lainnya. Semakin dekat terdengar gonjang ganjing musik rock, entah mengapa adrenalin semakin tinggi. Atmosfir panggung rock selalu memberikan spirit sendiri buat saya.

 

Memperhatikan pengunjung yang ternyata lumayan dari segala umur, bahkan anak kecil, saya agak lega karena artinya ini bukan pertunjukan untuk kakek nenek. Banyak penonton memakai atribut rocker, entah mereka memang anak band atau cuman gaya saja, saya tidak tahu, don’t care don’t ask. Yang penting saya menikmati suasana yang hadir disitu. Energi kerinduan akan musik legendaris bagi kaum pecinta rock. Semua menjadi satu di udara.

 

Lagu Ghost membuka permainan Slash yang membawa Myles Kennedy vocalisnya Alter Bridge menjadi lead vokalnya selama tour album solonya. Selama 2 jam permainan yang memikat Slash hanya memainkan 3 buah lagu dari band lamanya Guns n Roses; Civil War, Sweet Child of Mine dan Paradise City. Lagu yang terakhir memang ada di albumnya hanya saja dinyanyikan oleh Fergie.

 

Saya terhenyak kagum ketika Slash memainkan solo ‘Speak Sofly Love’ yang merupakan soundtrack dari Godfather. Tentu saja dimainkan dengan style hard rocknya. Masih belum habis rasa “I’m not worthy” saya, Slash langsung memainkan Sweet Child of Mine tanpa jeda dari lagu sebelumnya. Sontak seluruh ruangan bergetar dan saya tidak bisa tidak untuk ikut meloncat dan menghirup energi Rock n Roll yang serta merta tersebar. Believe the next two days later kaki saya masih terasa sakit karena loncat2 gila sepanjang lagu itu.

 

Konser diakhiri dengan lagu Paradise City yang juga disambut dengan teriakan histeris penonton. Tak bias dupungkiri penonton masih belum bisa memisahkan Slash dengan Guns N’ Roses. Slah boleh tidak suka diasosiasikan dengan Band lamanya, tapi kenyataanny penonton yang hadir pastinya hampir semua penggemar Guns N’ Roses.

 

Bagi saya ini adalah kali keduanya saya menonton Slash. Pertama kalinya pada waktu Slash masih di Guns n Roses pada tahun 92/93 di Frankfurt, tepatnya tidak ingat kapan. Saya yang pada waktu itu bekerja di Hamburg, harus ijin pulang cepat untuk mengejar kereta ke Frankfurt. Saat itu ICE masih jarang, kereta tercepat ke Franfure memakan waktu hampir 5 jam.

Perjalanan yang saya lalui hampir sama, yaitu saya harus berjalan agak jauh dari tempat berhenti tram ke lokasi konser. Bedanya saat itu saya sendiri. Tapi kemudian membuat saya berpikir bahwa dari dulu saya hampir selalu melakukan kesenangan saya seorang diri. Sekarangpun hampir 20 thn kemudian saya hanya ditemani seorang teman karena dari crowd saya tidak ada yang berminat untuk menonton Slash.

 

Pada akhirnya saya berpikir konser ini mengingatkan saya sebuah perjalanan sampai umur 40 tahun. Seperti perjalanan seorang Slash yang lebih dikenal dengan Guns N’Roses nya dan sampai saat ini konsernya juga untuk membuktikan bahwa Slash bisa mandiri. Perjalanan itu masih panjang, begitu juga perjalanan saya; baru saja dimulai.

Kosong

Posted by: mindtraveler

Sudah hampir tiga minggu batuk saya masih belum hilang juga. Belum lagi diselingi dengan lambung yang kambuh akibat antibiotik dari 2 dokter yang berbeda karena saya gak sabaran untuk cepet sembuh. Selama ini pula otak saya kosong. Bisa kerja saja sudah bagus. Akibatnya project pribadi saya terbengkalai. Huhuhu padahal maunya Juni sudah selesai.

 

Oh ya mobil saya yang ikut2an rusak menambah daftar panjang alasan saya tidak meneruskan si project. Jadwal wawancara semua harud mundur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Yah satu-satunya kemajuan si project, paling tidak saya sudah bertemu dengan sang editor yangs sekarang menunggu outline. Sementara itu saat ini saya sedang berusaha merombak outline saya agar lebih representative untuk diberikan ke sang editor. Sekali lagi saya merasa otak saya kosong tidak bisa mengeluarkan ide kreatif. Bahkan sampai saat menuliskan ini saya belum melihat outline saya lagi.

 

Sungguh kosong. Saya takut kehilangan semangat. Tekat saya untuk membuat hadiah buat diri sendiri terancam gagal. Saya tidak mau lagi bekerja setengah selesai kemudian meninggalkannya begitu saja. Saya kosong dan mencari-cari untuk mengisi! Help   

Lima Tahun, bagian ke 2

Posted by: mindtraveler

Setelah minggu-minggu yang menggelisahkan saat ini menurun lagi keinginan saya untuk meninggalkan kantor ini. Sekitar tiga minggu yang lalu saya sempat diundang oleh head hunter untuk wawancara di sebuah kantor di bilangan Sudirman. Tidak jauh dari kantor saya sekarang ini.

 

 

Hari-hari menjelang interview kegelisahan saya menjadi, duh kalau saya diterima bagaimana. Apakah saya akan punya waktu untuk mengerjakan proyek pribadi saya sekarang mengingat itu perusahaan profit? Sayang sekali kalau proyek saya terbengkalai karena saya tidak punya waktu untuk mengerjakannya.

 

 

Pagi hari jam 7 sebelum interview saya tiba di kantor. Memasuki ruangan mungil tempat saya bekerja selama lima tahun terakhir. Pemandangan langsung macetnya jalan Gatot Subroto. Tapi kadang-kadang saya dapatkan juga awan biru yang indah memamerkan senyumnya ke saya ke ruangan mungil ini. Berantakan. Ya tapi tidak pernah ada menyuruh saya untuk membersihkannya. Saya ragu. Tenggorokan saya seketika kering, ada yang tertahan. Apa saya siap meninggalkan tempat ini? Gambaran-gambaran manis tentang kantor ini termasuk yang pahit langsung berkelibat. Saya mulai duduk memandang jalan. Berpikir keras. Aarghh kenapa saya jadi ragu? Kemudian saya mulai bekerja untuk mengusir keraguan. Tapi tetap saja perasaan tidak enak dan perut rasanya mual membayangkan apa yang akan hilang jika saya diterima.

 

 

Jam 8, sms saya berbunyi isinya si head hunter yang membatalkan interview hari itu. Bukannya kecewa, saya malah lega, si sms membantu saya membuat keputusan. Mungkin bukan ini yang saya mau, paling tidak bukan perusahaan tersebut. Menarik napas panjang, saya mulai bertanya-tanya “inikah si zona nyaman?”Jawabannya belum saya temukan sampai sekarang.

 

 

 

Lima Tahun

Posted by: mindtraveler

Lima tahun biasanya batas waktu dimana saya mulai merasakan kegelisahan yang memuncak di tempat kerja.  Saya mulai melihat ke belakang dan berpikir kedepan.  Apa saja yang sudah saya pelajari lima tahun terakhir ini, akankan saya mendapatkan pembelajaran yang lebih jika saya bertahan di tempat yang sama?

 

Pekerjaan sekarang ini merupakan pekerjaan kedua yang melampaui waktu lima tahun.  Saya pernah melampaui waktu lima tahun itu dan bertahan sampai dua tahun kemudian dan itupun bukan karena saya memiliki pekerjaan yang baru tapi karena saya sampai di satu titik untuk bilang cukup.  Pengajuan berhenti saya cukup membuat shock beberapa orang pada saat itu.  Well bagi saya ketika pikiran, perasaaan dan logika tidak bisa saya satukan lagi biasanya pemenangnya adalah si perasaan, maka secara impulsive dan gagak berani menagmbil tindakan yang dianggap sebagian besar orang sebagai tindakan nekat dan gila.  Bagaimana tidak pada saat itu saya lakukan ketika atasan saya yang baru mulai memberikan karir path (setiap dapat atasan baru dapat career path baru) yang saya yakin akan berakhir di lorong waktu tidak peduli bagaimana selama tahun-tahun ini saya membuktikan bahwa saya mampu.

 

Sekarang saya dihadapi dilemma yang sama bedanya umur saya bertambah, nekat dan kegilaan masih ada tapi logika saya semakin mendominasi.  Titik lima tahun ini akan saya buat sebagai waktu rawan dimana saya harus sudah mempersiapkan apa yang akan dilakukan berikutnya, will I stay or will I go.  Keputusan apapun yang saya buat membutuhkan pemikiran yang jernih karena keduanya tetap mambutuhkan persiapan yang matang untuk menjalaninya.

 

Tempat kerja bagi saya bukan hanya tempat untuk mencari nafkah, lebih dari itu saya selalu menganggapnya sebagai sekolah tempat menimba ilmu.  Ilmu yang kita dapat semasa kuliah tidak akan pernah matang jika tidak benar-benar dijalankan dengan kasus and persoalan yang ril.  Harus diakui beberapa kepribadian saya juga hasil dari hal-hal yang saya alami di tempat kerja sehingga ketika tempat kerja sudah tidak memberikan efek pendewasaan bagi saya baik secara kepribadian maupun ilmu maka kegelisahan yang maha dasyat  itu mulai menghantui.

 

Di titik ini mulai detik dan menit ini saya akan mulai merenungkan dan kemudian bertindak atau melakukan perubahan bila perlu.  Apapun yang saya pilih keduanya sulit untuk saat ini!

Malas

Posted by: mindtraveler

Lama banget gue gak update blog ini, kalau ada itu pun maksain banget.  Padahal selama tahun ini banyak banget kejadian dan pengalaman gue yang bisa dijadikan inspirasi.  Tapi apa mau dikata rasa malas gue lebih dominan dibanding dengan keinginan gue untuk menulis. Hmm atau mungkin juga karena ada FB yang lumayan sering gw update, alhasil gw gak punya keinginan lagi untuk nulis di blg tercinta ini (blame it on FB!)  Kayaknya gue mesti membuat komitmen lagi untuk paling tidak update blog ini seminggu sekali. Yeah, yeah, bla..bla.. let see  how it goes.