Archive for the ‘People around me’ Category

Dugem anyone?

Posted by: mindtraveler

Sudah sekitar 6 tahun belakangan kata dugem bagi gue artinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama teman-teman seperti dinner atau ngobrol bersama di cafe setelah pulang kantor. Bahkan kegiatan nonton bersama teman-teman setelah pulang kantor juga saya klasifikasikan sebagai dugem. Gue lupa kalau arti dugem itu sama dengan clubbing di tengah hingar bingar dimana untuk bicara saja orang perlu teriak-teriak dan tidak lupa kadang-kadang hadiah hang over jika minum terlalu banyak. Dugem dengan arti itu sudah lama gue tinggalkan karena badan gue sudah tidak kuat menerima angin menjelang pagi dan gue udah tidak kuat teriak-teriak di tengah kebisingan.

Ajakan dari kedua teman gue sebut aja Bencong dan Uti cukup membuat gue was-was, takut malu-maluin ketiduran di tengah hingar bingar. Tadinya sih cuman rencana makan bersama dan baca tarot tapi Uti lagi kecentilan pengen banget dugem. Ok deh, selama seminggu gue siapkan stamina gue dengan langsung pulang ke rumah dan usaha untuk mendapatkan beauty sleep yang cukup, ditambah dengan meminum berbagai suplemen.

Akhirnya hari yang gue nanti dengan was-was tiba. Tujuan pertama makan malam dan pilihan jatuh ke Secret Recipe di Sensi. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tarot untuk Uti dan Bencong. Kegiatan sempet terganggu dengan kehadiran 2 orang ibu yang kayaknya ex pasiennya haji Jeje (bener gak ya spellingnya) karena punya profil hidung dan dagu yang sama (ini menurut Uti yang memang pengamat sepak terjang haji Jeje :). Kayaknya dia juga pengen dibacain, halah mati deh gue, tapi kita pura pura bego aja.

Sehabis puas pembacaan tarot kita menuju ke CJ’s di hotel Mulia. Wah secara terakhir gue kesana kira tahun 96 an, perubahan yang paling gue lihat adalah pengunjungnya; kebanyakan dari mereka “jualan”. Setengah jam pertama gue masih semangat dengerin musik tapi kemudian mulai loyo. Setelah 2 sesi home band, pulanglah gue dengan terngantuk2, tugas gue masih harus mengantarkan sobat2 tercinta pulang. Tepat jam 3.30 pagi gue akhirnya sampe juga ke rumah dengan badan pegal linu. Ternyata gue tuh emang tuwir banget karena efek dugem ini berlangsung selama berhari2 mengganggu siklus hidup gue. Nasib!

Kepada Sahabat

Posted by: mindtraveler

Saya punya seorang teman yang saya anggap sangat spesial. Disatu sisi saya kadang-kadang bisa sangat membenci dia tapi di sisi lain saya merasa dia adalah satu-satunya orang yang mengerti tentang saya selain keluarga saya. Dengan dia saya telah melalui saat-saat yang menyenangkan, meyebalkan, menyedihkan; juga saat dimana saya berharap saya tidak mau bertemu dia lagi even in my next life.

Sampai saat ini perasaan saya tentang dia belum berubah, masih berwarna-warni seperti itu, kadang saya masih bingung, kadang begitu bencinya saya sama dia, saya sampai berpikir untuk lebih baik lenyap dari bumi supaya rasa sebal itu hilang. Tapi saya harus mengakui orang ini sesungguhnya adalah my real friend, betapa bodohnya ucapan saya kepadanya, betapa judesnya saya, betapa marahnya saya dengan sumpah serapah, ketusnya jawaban saya dan betapa sinisnya nada-nada saya, dia selalu menerima saya walaupun kadang-kadang saya mendapatkan balasan yang tidak kalah judes dan sinisnya.

Dengan dia saya berbagi pikiran-pikiran saya walau kadang suka berakhir dengan pertengkaran. Kadang ada kata-kata atau ungkapannya yang memicu emosi saya untuk menyanggahnya sehingga terjadi perdebatan yang sebenarnya tidak perlu. But again, saya melihat dia sebagai teman yang tidak memiliki limit kesabaran (yah orangnya sebenarnya sih sangat pemarah, resek dan norak) untuk saya, disaat saya sendiri menyerah dia masih disitu meyakinkan saya bahwa everything will be fine. Still, saya tidak pernah convinced dan still dia tidak bosan untuk melakukannya.

 

Akhirnya saya menyadari dia adalah sahabat saya yang paling bisa saya andalkan, yang paling saya benci , yang paling norak, yang paling sok tahu, sok jagoan, tapi dia orang yang paling mengerti saya. Setidak-tidaknya itulah kesimpulan saya tentangnya.

 

 

Sometimes the devil holds a holy grail

Posted by: mindtraveler

Saya bukan orang yang gampang berteman, tapi saya cukup gampang percaya dengan orang.  Seperti orang pada umumnya saya juga sudah menilai orang dari pertemuan pertama, tapi seiring dengan bertambahnya umur saya bertambah pula toleransi saya akan hal-hal seperti itu.  Mungkin saya bisa bilang jika diri saya sekarang ini sangat pemaaf, saya biasanya mencoba untuk berpikir positif mengapa seseorang melakukan apa yang ia lakukan dan ini bagi saya unlimited.  Bisa saja beberapa kali ia melakukan hal yang saya anggap menusuk saya dari belakang, tapi tetap saya coba untuk stay thinking positive.  Saya kadang menghibur diri, ohhh mungkin dia tidak tahu apa yang dia lakukan, ohhh mungkin dia tidak bermaksud begitu dan kemungkinan lainnya.

Baru-baru ini seseorang yang saya percayai dan sebenarnya sangat tidak saya percayai untuk bisa melakukan hal yang menyakitkan buat saya, malah melakukan hal itu LAGI ( bagi saya ini adalah yang kesekian kali tapi mungkin dia tidak tahu kalau ada lainnya yang juga saya consider sebagai stabbing my back,  God please forgive this person).  Hal ini masih menohok bagi saya walau bukan pertama kalinya dia lakukan dan sungguh saya tidak mengerti mengapa dia mau melakukan itu terhadap saya.  Sekali lagi saya coba untuk memaafkan dalam hati dan mencoba seakan itu tidak menjadi big deal buat saya.  Tapi bukan itu permasalahannya, saya agak bingung perlukah trust itu ada batasnya, perlukah orang seperti ini tetap saya anggap sebagai teman yang saya percaya?

Saya jenis orang yang sering diliciki oleh orang lain karena saya sudah sering mengalaminya, tetapi mereka yang melakukannya bukanlah teman yang saya beri kepercayaan saya.  Sesungguhnya yang terjadi saat ini paling menyakitkan karena trust yang sudah saya berikan pada orang tersebut, belum lagi dukungan yang juga sering saya berikan pada orang tersebut baik dia tahu maupun tidak.

Sering saya coba telaah apa yang ada dalam pikiran orang tersebut sebelum melakukan act-nya.  Pernahkan terpikir olehnya ini akan menyakitkan saya?  Yah, mungkin karena memang sering melakukannya bagi dia bukan masalah hati lagi.  Duh, saya benar-benar kecewa.

Bukannya saya tidak pernah diperingati akan hal ini, seorang yang senior untuk umurnya dan pengalamannya serta mengenal teman ini dengan cukup baik telah memberikan alarm bahwa orang ini punya bahaya laten.  Pada saat itu saya malah menyangkalnya dan membela mati-matian di hadapan orang yang satu lagi yang juga diperingati oleh si sepuh.  Ok, I guess saya salah, saya harusnya sadar bagaimanapun juga si sepuh memiliki jam terbang yang banyak untuk mengenali jenis orang seperti ini.  Saya harusnya menyadari memang karena “potensi” itulah maka si sepuh memasukkan dia dalam “permainannya” saat itu.

In fact, saya memiliki andil terhadap apa yang ia miliki saat ini karena saya mendukungnya dari permulaan, memberikan masukan yang sangat positif ketika saya dimintai pendapat tentang dirinya.  Saya tidak bisa mengatakan hal-hal yang buruk tentang dia walau sebenarnya saat itu saya sudah mencium bau busuk, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya; it was a self denial dari saya. Again, the power of positive thinking works in the misterious way, yet not always turns out positive.

Saya tidak mencoba menjadi orang suci dan juga tidak mau munafik, saya hanya mencoba untuk hidup tanpa harus ada rasa curiga yang besar dan kebencian yang mendalam pada seseorang.  Bagi saya rasa itu lebih menyakitkan daripada pada saat saya benar-benar ditusuk dari belakang.  Oleh sebab itu saya cukup rajin melakukan grounding dan memberikan afirmasi positif kepada diri saya agar saya terhindar dari rasa itu.

Kejadian yang terakhir benar-benar telah membuat gambaran saya akan diri orang tersebut berubah.  Ini hal yang saya tidak bisa hindarkan, terjadi begitu saja, gambaran yang tadinya masih bisa saya poles kini rusak.  Bukan berarti saya membencinya, tidak!!! tapi ini membuat saya semakin mengerti orang seperti apa dia dan sebagai teman saya harus menerima itu dan mencoba berhati-hati di masa yang akan datang.  Maafkan saya ,after all I am just a human being, saya tidak bisa lagi mencoba untuk menimbulkan gambaran semula tentang orang ini; an innocence picture of this person.

This is a part of my growing pains.

Sudah berkeluarga mbak?

Posted by: mindtraveler

Di saat makan siang yang sejuk, saya berbincang-bincang dengan beberapa teman kantor saya tentang supir taxi dan pertanyaannya “Mbak sudah berkeluarga”. Sungguh lucu ternyata buat saya saja yang sering mendapat pertanyaan tersebut dari tukang taxi. Sebenarnya sih itu pertanyaan ice breaking jika ditanyakan pada permulaan, tetapi menjadi annoying ketika petanyaan itu diajukan pada tengah-tengah percakapan yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan kedua yaitu “kenapa belum?”.Sebagai seorang lajang, saya tidak pernah risih ditanya status saya, jika hal itu menyangkut pekerjaan atau aplikasi bank. Dalam dunia pergaulan, jika pertanyaan itu berlanjut, maka saya akan menerangkan bahwa saya bahagia dengan status saya dan seringkali saya bisa membuat si penanya menyesali dirinya karena sudah terikat dengan dunia perkawinan.

Tapi hal ini tidak dapat saya lakukan terhadap supir taxi. Sekali saya pernah menerangkan pada supir taxi betapa saya bahagia menyandang status lajang. Tapi dengan mati-matian dia tidak setuju dan menasehati saya panjang lebar. Salah satu pernyataannya yang sangat cliché adalah “sudahlah mbak jangan pilih-pilih”. Jika saya yang mengatakan itu ibu saya atau teman saya maka saya akan menjawabnya lagi dengan ketus. Tapi berhubung ini supir taxi dan nyawa saya berada di tangannya, saya tidak mau membuat dia tersinggung ataupun marah. Alhasil saya akan mengalah dan manggut-manggut setuju (sebenarnya sih pura-pura).

Belajar dari pengalaman ini jika saya masuk ke taxi dan supirnya bertanya” Sudah menikah mbak?” maka saya akan menjawab “ Sudah pak, anak saja sudah dua”. Biasanya dia akan manggut-manggut dan beralih ke topic lain.

Past Encounter

Posted by: mindtraveler

Yesterday in my hot yoga class, there was this first timer in my class. Actually I did not really notice her until my instructor called her “Nani”. Then I started to realize that she did look someone that I know, yeah she’s Nani Buntarian. In the locker room, I finally apprached her and asked whether she was who I thought she was.

It’s really weird, I actually met people from my past two times already until yesterday. The other one was Anita Shankar. I though she’s already back to the States. This is always interesting to meet people from your past, it’s kinda making the world stop for a second.

Potluck

Posted by: mindtraveler

Berhubung hari ini adalah hari terakhir sebelum orang-orang mulai berpuasa, maka sejak seminggu ini gue dan Lisa sudah mulai meng-arrange potluck buat hari ini. Kita memang merencanakan potluck dengan makanang yang tidak terlaly messy. jadi dari mula daftar menu sudah kita buat dan kemudian disebarkan. Dalam waktu tidak sampai semenit jawaban sudah bermunculan, praktis hari itu anak-anak sibuk mikirin apa yang mau dibawa.Menu:
macaroni Schootel - Paulina
mie goreng - Ujo
Beef rolade - Niki
nasi goreng - Lisa
bakwan jagung - Ungki
satay ayam - Desi
Kripik kentang – Ayu
Keripik tempe - Tien
Sayuran/salad – Putri

pudding – Raty Ginting
Es Cendol - Siska
Roti unyil & asinan - Inty
Lumpia – Adi
Lidah kucing and wijen choco - Anto
Ice cream woody - Maria
Kue kenari – Monique
Semangka – Dhea

Definetely I have to go for yoga tommorow, first thing in the morning!!!!!!!

Nambah …..nambah & nambah…………

Hmmmm, yum…yum..yummy…….