Archive for March, 2008

Dugem anyone?

Posted by: mindtraveler

Sudah sekitar 6 tahun belakangan kata dugem bagi gue artinya adalah suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama teman-teman seperti dinner atau ngobrol bersama di cafe setelah pulang kantor. Bahkan kegiatan nonton bersama teman-teman setelah pulang kantor juga saya klasifikasikan sebagai dugem. Gue lupa kalau arti dugem itu sama dengan clubbing di tengah hingar bingar dimana untuk bicara saja orang perlu teriak-teriak dan tidak lupa kadang-kadang hadiah hang over jika minum terlalu banyak. Dugem dengan arti itu sudah lama gue tinggalkan karena badan gue sudah tidak kuat menerima angin menjelang pagi dan gue udah tidak kuat teriak-teriak di tengah kebisingan.

Ajakan dari kedua teman gue sebut aja Bencong dan Uti cukup membuat gue was-was, takut malu-maluin ketiduran di tengah hingar bingar. Tadinya sih cuman rencana makan bersama dan baca tarot tapi Uti lagi kecentilan pengen banget dugem. Ok deh, selama seminggu gue siapkan stamina gue dengan langsung pulang ke rumah dan usaha untuk mendapatkan beauty sleep yang cukup, ditambah dengan meminum berbagai suplemen.

Akhirnya hari yang gue nanti dengan was-was tiba. Tujuan pertama makan malam dan pilihan jatuh ke Secret Recipe di Sensi. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tarot untuk Uti dan Bencong. Kegiatan sempet terganggu dengan kehadiran 2 orang ibu yang kayaknya ex pasiennya haji Jeje (bener gak ya spellingnya) karena punya profil hidung dan dagu yang sama (ini menurut Uti yang memang pengamat sepak terjang haji Jeje :). Kayaknya dia juga pengen dibacain, halah mati deh gue, tapi kita pura pura bego aja.

Sehabis puas pembacaan tarot kita menuju ke CJ’s di hotel Mulia. Wah secara terakhir gue kesana kira tahun 96 an, perubahan yang paling gue lihat adalah pengunjungnya; kebanyakan dari mereka “jualan”. Setengah jam pertama gue masih semangat dengerin musik tapi kemudian mulai loyo. Setelah 2 sesi home band, pulanglah gue dengan terngantuk2, tugas gue masih harus mengantarkan sobat2 tercinta pulang. Tepat jam 3.30 pagi gue akhirnya sampe juga ke rumah dengan badan pegal linu. Ternyata gue tuh emang tuwir banget karena efek dugem ini berlangsung selama berhari2 mengganggu siklus hidup gue. Nasib!

Untuk D…..Gratuliere

Posted by: mindtraveler

Di hari Minggu siang yang cerah yang saya janjian sama seorang sahabat yang jarang ketemu. Kita berdua sudah bersahabat selama 25 tahun, tapi 5 tahun terakhir ini pertemuan kita sangat jarang, tapi biar begitu biasanya setiap pertemuan lumayan berkualitas. Hari itu juga hari istimewa karena setelah 4 minggu tertunda akhirnya bisa juga kita berdua ketemu. Menu pertemuan kali ini D, teman saya ini akan menceritakan kisah kasihnya yang paling anyar.

Bertahun-tahun saya berteman dengan D, saya tidak pernah menyangka dia akan melajang sampai seusia sekarang. Gimana nggak, dari SMP dia sudah punya cowok yang serius dan itu berlanjut sampai mereka tamat kuliah dan saya ingat D bilang ini calon suami masa depannya. Tapi kemudian setelah D bekerja, hubungan mereka merenggang dan D pacaran sama teman kerjanya. Bagaimanapun alasan mereka putus bukan karena kehadiran cowok baru ini, tapi ada persoalan perbedaan pandangan dari kedua belah pihak.

Bertahun- tahun saya melihat D putus dari cowok yang satu ke cowok yang lain dan seiring dengan itu karirnya juga melesat jauh. Lebih gilanya lagi D mulai menyukai pria yang umurnya jauh lebih muda. Saya ingat dia memulai dengan seorang cowok yang 4 tahun lebih muda kemudian dilanjutkan dengan yang 8 tahun lebih muda, tapi sebagai teman saya selalu mendukung apapun yang menjadi pilihannya. Sampai pada suatu saat setelah lama tidak bertemu, D cerita lagi dia sedang menjalin hubungan seseorang yang perbedaannya bagai bumi dan langit. Saya pikir saat itu perbedaan pendidikan atau mungkin dia jatuh cinta sama anak buahnya. Yah memang itu sih yang terjadi tapi yang bikin saya kaget, dia ini adalah satpam di kantornya. Satpam, saudara-saudara!!!!

D memang selalu bikin saya tercengang dan berpikir keras dengan kisah cintanya yang beraneka ragam dan kadang tidak masuk akal saya. Bahkan gara-gara hubungan D dengan satpam ganteng itu (ini menurut dia, katanya sih mirip Sandy Nayoan) saya jadi lebih memperhatikan para satpam in case ada yang cakep dari mereka (halah..). Tanpa bermaksud melucu, cerita D bisa bikin saya terpingkal-pingkal hampir terguling-guling, kadang saya melihat suatu kenaifan di dalan diri D, tapi mungkin juga suatu sikap liberal dan egaliter, dia begitu open. Honestly, I really don’t know and don’t care as long as she is happy.

Cowok-cowok berikutnya juga tidak kalah menakjubkan dan sensational. Hebatnya D memiliki prinsip lebih baik mengejar cowok daripada dikejar cowok. Ok, way to go Girl!! Dia juga sangat berdedikasi pada para cowok-cowoknya, she will do everything to make them happy and comfort. Dia akan memasak untuk mereka dan mengantar makanan yang panas mengepul beraroma menggiurkan itu mengarungi lautan mobil di Jakarta. D bisa membuat cowok merasa diperhatikan dimanjakan dan dicintai, di satu sisi D itu seorang wanita karir yang sangat maju.

Cerita sampai saya akhirnya ketemu di hari Minggu itu berawal dari keisengan saya membuka kartu untuk D. Setelah beberapa kali membuka di antara saling waktu, saya perhatikan ada kartu yang setia mengikuti yaitu; The lovers, pertama saya pikir halah biasa D pasti lagi jatuhcinta, tapi setelah yang ke 3 dengan tenggang waktu sekitar 2 minggu saya merasa saya harus tanya sama D. Jadilah saya sms D, bunyinya seperti ini, “elo, lagi dihadapkan sebuah pilihan yang sulit ya say. Sorry ya gue lancang bukain kartu elo, lagi latihan nih, mudah-mudahan nggak ya” Tidak lama kemudian dia membalas sms saya dan membenarkan dugaan saya. Ternyata dia dihadapkan oleh pilihan antara 2 orang cowok. Btw, saya lupa cerita D juga punya hobby men-tandem cowok sebelum akhirnya memutuskan salah satu tapi saya tidak menyangka kali ini hal tersebut menjadi gangguan dalam hidupnya.

Atas permintaan D saya mulai membaca kedua cowok itu, tapi tetap D yang harus memilih. Sebenarnya D sudah tahu dengan siapa dia mau stay, saya hanya sekedar memberi konfirmasi tentang orang tersebut yang sebenarnya juga sudah dia ketahui dan saya focus pada pilihan D. Maybe it is too good to be true tapi kartu-kartu yang keluar memang mengisyarakan hal yang baik tentang si cowok pilihannya. Tidak kurang mengejutkan kartu saya mengisyaratkan cowok berumur di bawah 30 tahun yang kemudin diakui D berumur 28 tahun artinya 11 tahun lebih muda, aargghh D kamu memang sensational. Gak apa-apa, jangan khawatir “younger guy is so in right now”. And hah, guess what kemudian saya malah melihat cowok tersebut sudah punya niat untuk melamar D. Aduh D saya ikut seneng karena kemudian kamu bilang ke saya itu memang niat cowok tersebut.

Pertemuan saya dengan D di hari Minggu yang cerah itu adalah untuk menyaksikan kebahagiaan D saat ini. D sudah mulai mempersiapkan perkawinan yang direncanakan akan dilangsungkan pada bulan Desember tahun ini. Untuk pertama kali saya melihat D begitu bahagia pada sebuah hubungan, untuk pertama kalinya dia merasa disanjung oleh seorang cowok, untuk pertama kalinya D membiarkan dirinya dikejar oleh seorang cowok dan untuk pertama kalinya dia merasa nyaman berhubungan dengan cowok karena kali ini bentuk hubungannya adalah soul to soul (ini kesimpulan saya berdasarkan curahan hati dia). Meskipun D masih rikuh karena selama ini dia melakukan hal-hal yang dilakukan oleh cowoknya sekarang ini tapi dia benar-benar terlihat sumringah, wajahnya selalu terlihat berseri-seri dan cantik.

Kali ini D mendapatkan apa yang dia inginkan dari seorang cowok, sebagai seorang yang romantis D seperti mendapatkan belahan dirinya yang lain. Dia mendapatkan apa yang biasa dia lakukan untuk para cowok itu, singkat kata D kali ini merasa sangat yakin. Itulah saya melihat sinar kebahagiaan yang terindah yang pernah saya lihatt terpancar dari D selama dia menjalani hubungan-hubungannya dan saya juga ikut kecipratan kebahagiaan itu.

“elo gak bukain gue kartu sekarang?” tanyanya. Saya menggeleng dan berguman dalam hati, nggak D saya takut kartu saya merusak kebahagiaan kamu. Tapi sejujurnya D begitu saya pulang, saya buka kartu kamu juga dan believe me tidak ada isyarat buruk yang saya terima. So girl, ini tahun bahagiamu, jadi nikmatilah.

Dear D,
thanks buat inspirasi dan ijinnya untuk mem-publish cerita ini di blog
gue

Gay or not Gay, that is not a question…..And you think I’m a liberalist

Posted by: mindtraveler

Baru –baru ini kta semua heboh dengan adanya gambar seorang pesohor yang tampil mesra dengan sesama jenis. Meskipun akhirnya pihak management-nya mengeluarkan statement jika itu hanya lucu-lucan belaka, please deh memangnya masyarakat bodoh. Kenapa sih mesti munafik? Yah, saya tahu sih ada beberapa alasan dari si manager untuk menyanggah berita tersebut secara dia berada diambang kehilangan tambang emasnya. Bayangkan, apa masih bisa si pesohor ini dapat peran yang menggambarkan sosok macho yang dicintai wanita?

 

Saya yakin sebenarnya masih banyak pesohor pria ataupun wanita yang memiliki kehidupan sebagai gay dan lesbian. Selama ini masyarakat hanya menduga-duga atau sekedar menggosipkan saja. Yah, selama mereka tidak terlalu gegabah untuk bugil di depan kamera maka jati diri mereka yang asli hanya akan menjadi milik mereka dan Tuhan.

 

 

Disini saya bukan mau membicarakan si pesohor pria tersebut, gak penting kaleee, emang dia aja yang ceroboh. Saya bukan juga orang yang againts gay life, banyak teman-teman dekat yang memiliki kehidupan sebagai gay. Bagi saya mereka itu orang-orang yang menyenangkan dan bisa membuat sekitarnya happy abis secara kata “gay”sendiri jika diartikan secara harafiah berarti gembira. Tapi to be honest saya tidak bisa membayangkan jika suatu hari salah satu anggota keluarga saya bilang bahwa dia gay, apakah saya bisa menerima dia seperti saya menerima teman-teman saya; mungkin saya akan pingsan seketika. Jadi dalam hal ini saya juga masih tidak terlalu moderate atau liberal.

 

 

Beberapa tahun yang lalu saya memiliki seorang teman sekantor yang gay namun pada saat itu hanya saya yang tahu. Walaupun dia orang asing tapi pada saat itu dia mengerti bahwa masyarakat belum bisa menerima itu. Selama dia tinggal disini, beredar gossip bahwa saya dan dia pacaran; oh ya jangan berpikir orang ini bersikap kemayu atau keperempuan-perempuanan, tidak sama sekali. Anggapan orang itu saya biarkan demi untuk menolong agar tidak ada yang tahu status dia sebenarnya.

 

 

Dari teman inilah saya belajar gay juga seperti pasangan hetero lainnya. Teman saya ini sangat setia kepada pasangannya dan kadang-kadang meminta pertolongan saya untuk menemani dia menemui teman-teman gay-nya di Jakarta. Yah gimana juga dia takut tergoda secara dia pengen banget setia sama pasangannya nun jauh di mata. Singkat kata dari semua teman-teman gay saya dari dialah saya belajar banyak tentang kehidupan mereka, revealed story; the usually untold; extended version if you know what I mean.

 

 

Pertemanan saya dengan dia membuat saya merasa kasihan jika seorang gay harus menutup kehidupannya dari masyarakat dan lebih menyedihkan dari orang tuanya. Karena memang konsekuensinya adalah diasingkan dari keluarga sendiri.

 

 

Intinya saya menerima teman-teman gay saya apa adanya. After all itu adalah pilihan hidup mereka, kebahagiaan mereka. Yet, again jika itu terjadi pada salah satu anggota keluarga saya; yah yang pasti at the end saya akan menerimanya, hanya saja pertama kali saya tidak akan memiliki reaksi yang sama jika teman saya yang melakukan pengakuan; coming out from the closet. Pastinya ada jeda dimana dunia serasa saya berputar dan ingin segera terbangun berharap ini semua hanya mimpi. So, do you still think I’m a liberalist?

 

 

Hari Minggu dan Roti

Posted by: mindtraveler

 

Setelah hampir 2 hari tepar karena sok2an dugem, gue akhirnya memutuskan hari Minggu kemarin ikut kelas membuat roti.  Emang udah gue simpen tuh telepon, in case gue mau ikut sewaktu-waktu.  Pagi-pagi gue telpon en it’s ok untuk langsung ikut.

Disana ternyata memang cuman ada 4 orang yang ikut dan udah termasuk penyelenggara.  Menu hari itu membuat 4 macam Roti salah satunya roti Boy.  Sebenarnya sih menarik dan gue ketemu temen yang ngocolnya sama dengan gue, jadi lumayan lah setidak-tidaknya long week end ini gue cukup produktif.

Akhirnya roti-roti selesai, harumnya dan yang penting ada acara operasi plastic, lumayan ada setiap orang hampir membawa 10 buah roti, yum, yum.  Gue yang tadinya gak suka roti boy jadi doyan karena udah liat cara buatnya, gak tau ngaruhnya apa.

Kepada Sahabat

Posted by: mindtraveler

Saya punya seorang teman yang saya anggap sangat spesial. Disatu sisi saya kadang-kadang bisa sangat membenci dia tapi di sisi lain saya merasa dia adalah satu-satunya orang yang mengerti tentang saya selain keluarga saya. Dengan dia saya telah melalui saat-saat yang menyenangkan, meyebalkan, menyedihkan; juga saat dimana saya berharap saya tidak mau bertemu dia lagi even in my next life.

Sampai saat ini perasaan saya tentang dia belum berubah, masih berwarna-warni seperti itu, kadang saya masih bingung, kadang begitu bencinya saya sama dia, saya sampai berpikir untuk lebih baik lenyap dari bumi supaya rasa sebal itu hilang. Tapi saya harus mengakui orang ini sesungguhnya adalah my real friend, betapa bodohnya ucapan saya kepadanya, betapa judesnya saya, betapa marahnya saya dengan sumpah serapah, ketusnya jawaban saya dan betapa sinisnya nada-nada saya, dia selalu menerima saya walaupun kadang-kadang saya mendapatkan balasan yang tidak kalah judes dan sinisnya.

Dengan dia saya berbagi pikiran-pikiran saya walau kadang suka berakhir dengan pertengkaran. Kadang ada kata-kata atau ungkapannya yang memicu emosi saya untuk menyanggahnya sehingga terjadi perdebatan yang sebenarnya tidak perlu. But again, saya melihat dia sebagai teman yang tidak memiliki limit kesabaran (yah orangnya sebenarnya sih sangat pemarah, resek dan norak) untuk saya, disaat saya sendiri menyerah dia masih disitu meyakinkan saya bahwa everything will be fine. Still, saya tidak pernah convinced dan still dia tidak bosan untuk melakukannya.

 

Akhirnya saya menyadari dia adalah sahabat saya yang paling bisa saya andalkan, yang paling saya benci , yang paling norak, yang paling sok tahu, sok jagoan, tapi dia orang yang paling mengerti saya. Setidak-tidaknya itulah kesimpulan saya tentangnya.

 

 

Sometimes the devil holds a holy grail

Posted by: mindtraveler

Saya bukan orang yang gampang berteman, tapi saya cukup gampang percaya dengan orang.  Seperti orang pada umumnya saya juga sudah menilai orang dari pertemuan pertama, tapi seiring dengan bertambahnya umur saya bertambah pula toleransi saya akan hal-hal seperti itu.  Mungkin saya bisa bilang jika diri saya sekarang ini sangat pemaaf, saya biasanya mencoba untuk berpikir positif mengapa seseorang melakukan apa yang ia lakukan dan ini bagi saya unlimited.  Bisa saja beberapa kali ia melakukan hal yang saya anggap menusuk saya dari belakang, tapi tetap saya coba untuk stay thinking positive.  Saya kadang menghibur diri, ohhh mungkin dia tidak tahu apa yang dia lakukan, ohhh mungkin dia tidak bermaksud begitu dan kemungkinan lainnya.

Baru-baru ini seseorang yang saya percayai dan sebenarnya sangat tidak saya percayai untuk bisa melakukan hal yang menyakitkan buat saya, malah melakukan hal itu LAGI ( bagi saya ini adalah yang kesekian kali tapi mungkin dia tidak tahu kalau ada lainnya yang juga saya consider sebagai stabbing my back,  God please forgive this person).  Hal ini masih menohok bagi saya walau bukan pertama kalinya dia lakukan dan sungguh saya tidak mengerti mengapa dia mau melakukan itu terhadap saya.  Sekali lagi saya coba untuk memaafkan dalam hati dan mencoba seakan itu tidak menjadi big deal buat saya.  Tapi bukan itu permasalahannya, saya agak bingung perlukah trust itu ada batasnya, perlukah orang seperti ini tetap saya anggap sebagai teman yang saya percaya?

Saya jenis orang yang sering diliciki oleh orang lain karena saya sudah sering mengalaminya, tetapi mereka yang melakukannya bukanlah teman yang saya beri kepercayaan saya.  Sesungguhnya yang terjadi saat ini paling menyakitkan karena trust yang sudah saya berikan pada orang tersebut, belum lagi dukungan yang juga sering saya berikan pada orang tersebut baik dia tahu maupun tidak.

Sering saya coba telaah apa yang ada dalam pikiran orang tersebut sebelum melakukan act-nya.  Pernahkan terpikir olehnya ini akan menyakitkan saya?  Yah, mungkin karena memang sering melakukannya bagi dia bukan masalah hati lagi.  Duh, saya benar-benar kecewa.

Bukannya saya tidak pernah diperingati akan hal ini, seorang yang senior untuk umurnya dan pengalamannya serta mengenal teman ini dengan cukup baik telah memberikan alarm bahwa orang ini punya bahaya laten.  Pada saat itu saya malah menyangkalnya dan membela mati-matian di hadapan orang yang satu lagi yang juga diperingati oleh si sepuh.  Ok, I guess saya salah, saya harusnya sadar bagaimanapun juga si sepuh memiliki jam terbang yang banyak untuk mengenali jenis orang seperti ini.  Saya harusnya menyadari memang karena “potensi” itulah maka si sepuh memasukkan dia dalam “permainannya” saat itu.

In fact, saya memiliki andil terhadap apa yang ia miliki saat ini karena saya mendukungnya dari permulaan, memberikan masukan yang sangat positif ketika saya dimintai pendapat tentang dirinya.  Saya tidak bisa mengatakan hal-hal yang buruk tentang dia walau sebenarnya saat itu saya sudah mencium bau busuk, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya; it was a self denial dari saya. Again, the power of positive thinking works in the misterious way, yet not always turns out positive.

Saya tidak mencoba menjadi orang suci dan juga tidak mau munafik, saya hanya mencoba untuk hidup tanpa harus ada rasa curiga yang besar dan kebencian yang mendalam pada seseorang.  Bagi saya rasa itu lebih menyakitkan daripada pada saat saya benar-benar ditusuk dari belakang.  Oleh sebab itu saya cukup rajin melakukan grounding dan memberikan afirmasi positif kepada diri saya agar saya terhindar dari rasa itu.

Kejadian yang terakhir benar-benar telah membuat gambaran saya akan diri orang tersebut berubah.  Ini hal yang saya tidak bisa hindarkan, terjadi begitu saja, gambaran yang tadinya masih bisa saya poles kini rusak.  Bukan berarti saya membencinya, tidak!!! tapi ini membuat saya semakin mengerti orang seperti apa dia dan sebagai teman saya harus menerima itu dan mencoba berhati-hati di masa yang akan datang.  Maafkan saya ,after all I am just a human being, saya tidak bisa lagi mencoba untuk menimbulkan gambaran semula tentang orang ini; an innocence picture of this person.

This is a part of my growing pains.

Me Vs Weight, part 2 and the battle still continues

Posted by: mindtraveler

Dari pertama saya menuliskan pergulatan saya dengan berat badan tetap saja tidak ada perubahan pada keadaan saya saat ini. Setelah terakhir melesat naik 10 kilo, sekarang si jarum timbangan berada dit titik itu secara stagnan, no matter what happens. Bukannya saya tidak berusaha apa-apa, tetapi yang ada setiap usaha mengarah ke titik semula saya.

Sebenarnya saya tidak berharap saya akan memiliki tubuh dengan ukuran s, duh gak deh. Saya hanya ingin ada di ukuran XL atau L deh yang pasti ukuran yang tersedia di took baju. Setidak-tidaknya saya tidak perlu belanja di toko khusus baju plus size, pertama karena untuk harga biasanya lebih mahal dan perlu ke tempat khusus. Saya hanya ingin bisa mendapatkan ukuran saya di toko biasa.

Hal yang menggangu lagi tentunya saja kesehatan, yah kadang-kadang napas saya sering sesak. Huhhhh susahnya, kenapa yang badan gue or should I say perut gue tidak mau diajak kerjasama? Who to blame?

Saya pernah melakukan yoga di ruangan panas sekaligus berdiet, pada saat itu saya berhasil menurunkan berat badan saya 7 kilo. Tapi begitu saya mulai malas berolah raga sang kilo naik lagi elbih merajalela. Beberapa bulan terakhir ini saya mencoba untuk tidak ngoyo, still saya ikut olah raga jalan bersama teman-teman. Yah hasilnya timbangan saya juga tidak ngoyo, di titik itu dia bertengger dengan bangganya. Hahh, help……..