Selamat Datang Musim Panas
Posted by: mindtraveler
Kulihat monitor kedatangan dan menghela napas panjang, yah dalam 15 menit lagi dia akan mendarat dan mungkin jika proses pengambilan barang serta imigrasi lancar dia akan berada di hadapanku kurang dari setengah jam. Dia yang kurindu dalam enam tahun ini, yang kadang sering kudekap dan kubelai dalam mimpiku.
Ingatanku tiba di tujuh tahun silam, di suatu musim panas yang indah di
Siang itu aku baru saja balik dari Frankfurt mengantarkan kekasihku balik ke
Siang itu juga kami makan bersama dan menghabiskan waktu bersama bercerita tentang diri. Dia kemari untuk menemui ibunya yang orang Jerman asli yang telah bercerai dari ayahnya bertahun-tahun yang lalu dan hingga akhirnya memutuskan menetap dengannya karena dia sudah tidak menemukan kecocokan dengan ayahnya lagi. Dia adalah produk keluarga berantakan, ayahnya telah menikah lagi dengan seorang perempuan yang tidak bisa berkomunikasi dengan Dewi, segalanya selalu berakhir dengan petengkaran yang kemudian akan disambung pertengkarannya dengan sang ayah. Sementara itu ibu biologisnya yang memiliki sebuah imbiss hidup bersama dengan seorang pengangguran
Dewi bekerja sebagai seorang hairdresser senang mengganti warna rambutnya dan tentu saja karena adanya darah Aria di badannya aku susah mengenali aksen timur di wajahnya. Kekasihnya yang berasal dari
Suatu malam yang dingin aku dikejutkan oleh telepon darinya, kudengar suara parau karena tangisan. Dia baru saja bertengkar dengan sang kekasih dan berakhir dengan pukulan di pipinya. Yah, dia memang sering cerita bahwa sang kekasih mudah sekali melayangkan tangannya jika mereka sedang bertengkar, di sisi lain Dewi sangat mencintainya dan menganggap dia sebagai satu-satunya laki-laki yang mengerti dirinya. Aku mencoba menghiburnya tak lupa mengeluarkan semua kamus humor yang ada di kepalaku sehingga ia tertawa. Ah Dewi, aku senang aku bisa menjadi badutmu.
Siang itu sehabis kuliah pagi aku menuju rumah Dewi yang berada agak jauh dari
Waktu bersama dengannya terasa cepat, tanpa terasa sudah jam delapan malam walau diluar masih terang. Aku harus balik, banyak tugas-tugas kuliah yang harus aku kerjakan. Dewi melarangku, aku tertawa, dia menghalangiku di pintu, sekejap aku tidak tahu apa yang merasukiku, bibirku sudah mendarat di bibirnya, dia membalas. Kami berdua terkejut, saling menatap, kemudian saling menuntun ke kamar. Dia adalah musim panasku, dari tubuhnya aku hirup wangi bunga, dia tertawa pelan mengeluarkan suara seperti riak air. Malam itu kami berdua menciptakan musim panas kami sendiri.
Satu tahun kami menjalani hubungan ini tanpa sepengetahuan kekasih kami. Berdua kami saling menjelajahi hati dan tubuh untuk menemukan kebagiaan musim panas kami. Tertawa dan menangis kami lakukan bersama tapi jka kebahagiaan yang kau rasakan, pasti waktu selalu tidak berpihak padamu. Dia yang menyemangati aku belajar, dia berada disana pada saat wisudaku dan dia yang mengantarku sampai di bandara Franfurt untuk bertolak ke
Matanya sembab sama seperti pada hari pertama kali musim panas kami tercipta. Ciuman perpisahan kami mengakhiri musim panas kami, itulah terakhir kalinya aku melihatnya. Perjalanan pulang dengan pesawat memakan waktu berabad-abad lamanya dengan mata basah tertutup, bibir kering terasa panas aku rasakan rindu yang sudah mulai menghantam dadaku. Selamat tinggal musim panas.
Email dia setahun kemudian yang menyatakan bahwa dia akhirnya akan menikahi kekasihnya membuatku untuk mengambil keputusan yang sama setelah hampir setahun ini kubuat kekasihku menunggu jawaban. Aku bahagia untuk keputusannya, bagaimanapun juga aku tidak akan pernah bisa bersamannya dalam satu ikatan pernikahan. Aku menahan dada penuh sesak tangis yang tidak keluar di hari pernikahannya dan juga di hari pernikahanku. Selamat datang musim dingin yang panjang.
Bertahun-tahun sejak itu hubungan kami terputus begitu saja, bagaimanapun juga aku berpikir ini adalah jalan yang terbaik. Tapi selama tahun-tahun itu dia sering melintas dalam lamunanku dan yang membuatku merasa berdosa adalah jika bayangan dia datang ketika aku sedang bercinta. Kelahiran putri pertamaku memang telah menghapus sebagian bayang-bayangnya sampai akhirnya kelahiran putri kedua mimpi tentang dia sudah hampir tidak mengikutiku lagi.
Kedua putriku telah membangunkan aku dari mimpi-mimpi semuku tentang dia sampai akhirnya sebulan yang lalu ketika emailnya tiba. Dia akan menjenguk ayahnya yang sakit di
Recent Comments