Archive for April, 2008

Selamat Datang Musim Panas

Posted by: mindtraveler

Kulihat monitor kedatangan dan menghela napas panjang, yah dalam 15 menit lagi dia akan mendarat dan mungkin jika proses pengambilan barang serta imigrasi lancar dia akan berada di hadapanku kurang dari setengah jam.  Dia yang kurindu dalam enam tahun ini, yang kadang sering kudekap dan kubelai dalam mimpiku. 

  

Ingatanku tiba di tujuh tahun silam, di suatu musim panas yang indah di Heidelberg.  Segerombolan orang bersepeda, memakai baju warna warni mempertontonkan tubuh mereka yang berlemak dengan perut bergelambir, begitu percaya diri. Bis bergantian datang dan pergi, disitu aku sedang merenung duduk di bangku taman  memandang ke arah terminal menikmati kesibukan yang dipertunjukkannya.  Hijau daun, terik matahari berkolaborasi dengan bangunan tua nan kokoh di sekitar.  Musim panas selalu menjadi kecintaanku sebagai seorang manusia tropis aku menggilai senyum matahari.  Bagiku dialah sang berkah, apalagi jika dia bersinar setelah awan mendung yang panjang.

 

Siang itu aku baru saja balik dari Frankfurt mengantarkan kekasihku balik ke Jakarta setelah dua minggu menemaniku disini.  Rasa sunyi terhibur dengan pemandangan musim panas di depanku.  “Hast du Feuer?” suara seorang perempuan  berambut pirang menggangu renunganku.  Aku menggeleng dan menjawab sopan, tetapi kemudian kaget dengan perkataan si perempuan, “ Dari Indonesia ya?.  Aku Dewi juga dari Indonesia, tepatnya dari Medan” Hah apapula ini, kuperhatikan raut wajahnya, ada bentuk rahang yang sangat familiar yang biasa aku lihat pada orang-orang Sumatra Utara.

  

Siang itu juga kami makan bersama dan menghabiskan waktu bersama bercerita tentang diri.  Dia kemari untuk menemui ibunya yang orang Jerman asli yang telah bercerai dari ayahnya bertahun-tahun yang lalu dan hingga akhirnya memutuskan menetap dengannya karena dia sudah tidak menemukan kecocokan dengan ayahnya lagi.  Dia adalah produk keluarga berantakan, ayahnya telah menikah lagi dengan seorang perempuan yang tidak bisa berkomunikasi dengan Dewi, segalanya selalu berakhir dengan petengkaran yang kemudian akan disambung pertengkarannya dengan sang ayah. Sementara itu ibu biologisnya yang memiliki sebuah imbiss hidup bersama dengan seorang pengangguran kota kecil sekitar 10 km dari Heidelberg

  

Dewi bekerja sebagai seorang hairdresser senang mengganti warna rambutnya dan tentu saja karena adanya darah Aria di badannya aku susah mengenali aksen timur di wajahnya. Kekasihnya yang berasal dari Zagreb bekerja di McDonald dan saat ini ia banyak menghabiskan waktu tinggal bersamanya.  Sehari itu aku dan Dewi telah seperti sepasang sahabat yang telah saling mengenal bertahun-tahun, berbagi rasa duka dan mimpi-mimpi, kami menjadi tak terpisahkan.

  

Suatu malam yang dingin aku dikejutkan oleh telepon darinya, kudengar suara parau karena tangisan.  Dia baru saja bertengkar dengan sang kekasih dan berakhir dengan pukulan di pipinya.  Yah, dia memang sering cerita bahwa sang kekasih mudah sekali melayangkan tangannya jika mereka sedang bertengkar, di sisi lain Dewi sangat mencintainya dan menganggap dia sebagai satu-satunya laki-laki yang mengerti dirinya.  Aku mencoba menghiburnya tak lupa mengeluarkan semua kamus humor yang ada di kepalaku sehingga ia tertawa.  Ah Dewi, aku senang aku bisa menjadi badutmu.

  

Siang itu sehabis kuliah pagi aku menuju rumah Dewi yang berada agak jauh dari kota, kukayuh sepedaku cepat ada kerinduan, rasa ingin melindungi dan memeluknya.  Wangi bunga, hamparan hijau dan suara riak air dari sungai tidak bisa membendung rasa ingin bertemuku.  Di rumah ibunya yang asri, Dewi sudah menyambutku dengan pelipis biru, mata yang masih sembab tapi dengan senyum mengembang.  Dia begitu senang aku datang dan telah menyiapkan makan siang untukku.  Ibu dan kekasihnya sedang berlibur seperti yang layak dilakukan orang Eropa pada umumnya saat musim panas. 

  

Waktu bersama dengannya terasa cepat, tanpa terasa sudah jam delapan malam walau diluar masih terang.  Aku harus balik, banyak tugas-tugas kuliah yang harus aku kerjakan.  Dewi melarangku, aku tertawa, dia menghalangiku di pintu, sekejap aku tidak tahu apa yang merasukiku, bibirku sudah mendarat di bibirnya, dia membalas.   Kami berdua terkejut, saling menatap, kemudian saling menuntun ke kamar.  Dia adalah musim panasku, dari tubuhnya aku hirup wangi bunga, dia tertawa pelan mengeluarkan suara seperti riak air.  Malam itu kami berdua menciptakan  musim panas  kami sendiri.

  

Satu tahun kami menjalani hubungan ini tanpa sepengetahuan kekasih kami. Berdua kami saling menjelajahi hati dan tubuh untuk menemukan kebagiaan musim panas kami.  Tertawa dan menangis kami lakukan bersama tapi jka kebahagiaan yang kau rasakan, pasti waktu selalu tidak berpihak padamu.  Dia yang menyemangati aku belajar, dia berada disana pada saat wisudaku dan dia yang mengantarku sampai di bandara Franfurt untuk bertolak ke Jakarta.

  

Matanya sembab sama seperti pada hari pertama kali musim panas kami tercipta. Ciuman perpisahan kami mengakhiri musim panas kami, itulah terakhir kalinya aku melihatnya.  Perjalanan pulang dengan pesawat memakan waktu berabad-abad lamanya dengan mata basah tertutup, bibir kering terasa panas aku rasakan rindu yang sudah mulai menghantam dadaku.  Selamat tinggal musim panas.

  

Email dia setahun kemudian yang menyatakan bahwa dia akhirnya akan menikahi kekasihnya membuatku untuk mengambil keputusan yang sama setelah hampir setahun ini kubuat kekasihku menunggu jawaban.  Aku bahagia untuk keputusannya, bagaimanapun juga aku tidak akan pernah bisa bersamannya dalam satu ikatan pernikahan.  Aku menahan dada penuh sesak tangis yang tidak keluar di hari pernikahannya dan juga di hari pernikahanku.  Selamat datang musim dingin yang panjang.

  

Bertahun-tahun sejak itu hubungan kami terputus begitu saja, bagaimanapun juga aku berpikir ini adalah jalan yang terbaik.  Tapi selama tahun-tahun itu dia sering melintas dalam lamunanku dan yang membuatku merasa berdosa adalah jika bayangan dia datang ketika aku sedang bercinta.  Kelahiran putri pertamaku memang telah menghapus sebagian bayang-bayangnya sampai akhirnya kelahiran putri kedua mimpi tentang dia sudah hampir tidak mengikutiku lagi.

  

Kedua putriku telah membangunkan aku dari mimpi-mimpi semuku tentang dia sampai akhirnya sebulan yang lalu ketika emailnya tiba.  Dia akan menjenguk ayahnya yang sakit di Medan dan akan mampir ke Jakarta untuk menemuiku.  Dia menuliskan itu semua seperti layaknya seorang sahabat lama yang ingin berjumpa.  Ah Dewi, aku sebenarnya takut untuk berjumpa, aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi tapi aku tidak dapat menolakmu.

  “Rin, itu sepertinya, penumpang pesawat dari Frankfurt sudah keluar” suara mas Rio, suamiku mengejutkanku.  Aku memandangnya, ah andai kau tahu aku sedang menunggu musim panasku.  

Terjajah

Posted by: mindtraveler

“Saya salah mengawini kamu, saya lelaki cinta kemapanan. Saya baru sadar jika saya membutuhkan seorang wanita karir di sisi saya, seorang wanita yang dapat mendukung karir saya, layak di sisi saya karena dia juga cemerlang di bidangnya.  Sekarang karena kemapanan saya, saya merasa kamu tidak layak mendampingi saya karena kamu hanya ibu rumah tangga biasa, kamu tidak bisa bersolek, kamu tidak pantas saya kenalkan dengan sejawat saya.  Itulah sebabnya saya pilih dia karena dia tidak akan menjadi sekedar istri seperti kamu, kami akan menjadi pasangan yang cemerlang”  

 

Sang perempuan termangu, pikirannya kosong, merasa lemah.  Si lelaki memang sudah minta maaf, menyembah sang perempuan minta maaf atas perselingkuhannya.  Masih percaya kah dia, atau ini permainan si lelaki, mungkin juga ini permainannya hatinya sendiri, berusaha mempercayai apa yang ingin ia percayai.  Ia lihat kedua putrinya yang masih kecil bermain tertawa-tawa, tidak tahu badai yang menghantam hati sang bunda.

 

 

 

“Keparat! tega sekali dia berbuat ini padaku”,  Sang perempuan masih ingat ketika ia mengenalkan lelaki itu ke keluarganya.  “Hah lelaki payah, kayak bencong” begitu kata ayahnya kala itu.  Ya dia memang halus, dia memang miskin tapi aku bersedia mendampinginya.  Dia begitu memujaku, memperlakukan aku sebagai ibunya, ia dengarkan nasehatku, jadi aku mau jadi pengantinnya, begitu tekad sang perempuan.

 

 

 

“Kamu adalah lucky charm-nya.  Dia bisa menjadi dia sekarang, berhasil dan sukses karena kamu” itu kata-kata seorang pembaca tarot kepadanya.  “Tapi dia tidak menyadarinya” kata sang perempuan lirih.  Sekarang sumpah untuk lelaki itu sudah si ujung lidahnya.

 

Keparat kamu Kartini, kamu desak perempuan untuk maju agar suamiku bisa membandingkan mereka pengejar karir dengan diriku, agar aku terlihat hina, wanita bodoh yang mau saja tinggal di rumah agar anak-anakku mendapatkan perhatian, wanita tolol karena aku mau meninggalkan tempat kerjaku agar aku dapat menyusui bayiku, melihat kedua putriku tumbuh.  Karirku sebagai ibu rumah tangga tidak dihargai, suamiku lebih suka melihat aku mengejar karir lain, KEPARAT!

 

 

Untuk M, semoga tabah dan kuat

 

Night Time Journey at the Museum (Factorij Batavia in 1930’s)

Posted by: mindtraveler

Tanggal 5 april 2008 jam 18.30 – 22.30, agenda 8 orang sudah di book untuk mengikuti acara nigh time journey at the museum Bank Mandiri. Gue termasuk salah satunya, setelah wara wiri de tengah teriknya matahari Sabtu karena ngurusin boil, gue akhirnya harus rela pulang dengan ojek supaya bisa mandi dulu sebelum ketemuan di Sarinah.

Hampir secara serentak gue, Wiwin serta Putri dan suami (Ali) sampai di Sarinah, disana kita makan roti dulu secara sudah lapar berat secara menurut buku acara dinner-nya ada diurutan sekitar jam 8. Lama banget.Di dalam bis trans Jakarta kekaguman muncul belum lagi acara potret memotret yang norak banget. Buat gue ini ke 2 kalinya, buat Wiwin pertama kali en buat putri dan ali sudah yang kesekian kalinya, tetapi tetap aja jarang. Beneran enak apalagi gak usah desak2an, gue jadi berharap supaya route busway dari tempat gue ke kantor bisa cepat-cepat selesai.

Perjalanan dari Sarinah Museum Bank Mandiri memakan waktu kurang dari setengah jam. Di pemberhentian gue di kejutkan lagi dengan penyeberangan bawah tanah di kota tua, wah serasa abroad banget. Gila gue udah lama tidak ke kota tua dan sekarang kemajuannya banyak banget.

Di museum masih acara registrasi dan udaranya panas sekali, untungnya gak lama kemudian hujan jadinya ada angina dingin yang masuk ke dalam museum. Acara pertama adalah rekonstruksi kasir Cina yang dilakukan dalam sebuah ruangan yang disususun sebagai front office bank. Gue baru tau kalo museum ini dulunya bank belanda dan gue baru tau yang disebut kasir cina. Sebenarnya bank ini khusus untuk orang Belanda tetapi karena mereka melihat bahwa orang Cina termasuk kaum yang maju maka mereka khusus membuat bagian yang disebut kasir Cina untuk melayani para pedagang Cina pada saat itu.

Rekonstruksi yang memakan waktu sekitar setengah jam lumayan memuaskan pengunjung, acara dilanjutkan dengan makan malam ala Rijstaffel. Sebenarnya makan cara in berarti ada sekitar 44 macam lauk pauk tetapi pada malam itu dipersingkat menjadi 4 macam saja (kesian dehh). Sambil makan kita juga dihibur dengan band ala tempo dulu eh tapi abis itu lagunya berubah jadi lagu café.

Setelah makan malam pengunjung dibagi menjadi 3 kelompok untuk menyusuri lorong-lorong di museum. Ruangan-ruangan yang ditunjukkan antara lain ruang rapat direksi, ruang direktur , penyimpanan uang yang berada di bawah tanah. Bagunan bank Mandiri yang bergaya art deco dibangun pada tahun 1929 dirancang oleh arsitek NHM J.J.J. de Bruyn bekerja sama dengan A.P Smits dan C. van Linde dan hampir 90% dari bangunan ini masih asli. Bayangkan betapa kokohnya! Penyelusuran ditutup dengan menaiki tower museum dan memandang kota tua dari ketinggian. Ada rasa bangga menyusup di hati gue. I love Jakarta especially the old Batavia.

Akhir perjalanan kita balik lagi ke ruangan dinner berhubung taman tidak dapat dipakai karena bekas hujan. Disitu kita dihibur oleh Brass band yang merupakan marching band beranggotakan karyawan museum bank Mandiri, yah lumayan lah daripada nggak. Dalam perjalanan pulang gue berangan kalau saja acara ini dikolaborasi dengan program visit Indonesia 2008, kenapa ya pemda gak kepikiran kesitu? Berhubung sudah lewat jam 23.00 maka trans Jakarta sudah tidak beroperasi lagi, jadinya kita pulang naik taxi ke Sarinah. Disana lanjut lagi ngopi di Starbuck sambil terus mikir kalau saja…….

Pergi

Posted by: mindtraveler

 

Bunda masih terus menangis, aku tak berdaya untuk menghiburnya.  Ini semua salahku, aku merasa begitu berdosa padanya.  Ini semua juga kesalahan laki-laki keparat itu.  Maafkan aku bunda, aku tidak bisa merubah yang sudah terjadi.

 

 

 

Laki-laki itu adalah atasanku, sangat kebapakan dan disukai oleh semua bawahannya.  Sebagai orang baru di kantor itu pada mulanya aku sangat gugup, ini adalah pekerjaan pertamaku setelah lulus, aku harus bisa.  Kenyataannya tekadku malah membuat aku melakukan banyak kesalahan, aku yang ingin segalanya sempurna malah membuat semuanya berantakan.  Aku telah mengacaukannya.  Hah aku harus keluar, aku malu. 

 

Laki-laki itulah penolongku, dia pembimbingku, dia ceritakan pengalaman pertamanya untuk membuatku tidak merasa begitu bodoh.  Dia membujukku untuk tetap bertahan dan aku mau.  Dia begitu agung, kata-katanya sempurna, membasahiku bagai air segar, membuka wawasanku. 

 

Seminggu, dua minggu , sebulan menjadi dua bulan, dari pembimbimng menjadi pendamping.  Tanpa terasa kehadirannya di sisiku membuat perasaanku bergetar dan tubuhku panas dingin.  Dia telah mengisi ruang kosong di hatiku dan aku tidak peduli dia sudah berkeluarga.  Dia telah memenangkan egoku, aku begitu membutuhkan kehadirannya daripada siapapun. Persetan dengan anak-istrinya.  Akulah sekarang sang ratu.

 

 

 

Dari bergandeng tangan menjadi pelukan dan ciuman mesra hingga akhirnya pada salah satu perjalanan dinas kami, dia mengendap ke kamarku.  Aku terpaku melihatnya tengah malam di depan kamar hotelku, seperti melihat hantu sekaligus malaikat.  Inilah mungkin malam penyerahan diri yang telah ditulis oleh takdirku.  Semua kepasrahan kuberikan pada dewa penolongku, kurasakan sentuhannya di tubuhku, begitu lembut mengirimkan aliran listrik halus pada seluruh syarafku, desahannya, desahanku.  Aku ingat bunda, aku ingat abangku, tapi bayangan mereka begitu pudar karena aku ada di nirwana bersama sang dewa.

 

 

 

Cinta oh cinta, itulah yang aku rasakan dengannya, aku lupa diri, aku hanya memikirikan egoku.  Kenikmatan yang aku rasakan darinya membuat aku mabuk dan hidup dalam mimpi.  Hanya aku dan dia, bersama kami mengarungi dan menjelajahi tempat-tempat tersembunyi pada pada diri kami diiringi desahan bahagia.

 

 

 

Sebulan yang lalu aku menyadari kehadiran mahluk lain dalam tubuhku.  Aku yakin inilah buah kenikmatan dari pengarungan dunia asing.  Seketika laki-laki itupun menjadi mahluk asing begitu mengetahui keadaanku, dia berubah menjadi Dewa perusak, “terminate it” katanya.  Dia memberikan aku sebuah alamat dan meminta aku pergi sendiri kesana.

 

 

 

Bunda mengapa pada saat-saat seperti ini bayanganmu begitu nyata.  Aku harus melakukannya, tidak sanggup aku menahan ini semua dan tidak sanggup aku melihatmu menanggung dosaku.  Aaaargh, bayangan pembunuhan diriku atas janin yang sudah berusia empat bulan ini membuatku bergidik.

 

 

 

Wanita tua tersenyum dengan suaranya yang parau memintaku untuk berbaring.  Inilah si pelaksana dari tugas penjagalan yang aku perintahkan padanya.  Ketika rasa sakit pertama aku rasakan terlihatlah wajah bunda, tersenyum agung, rasa sakit itu lebih terasa sekarang, tapi bunda muncul lagi dengan wajah tentramnya, tampaknya dia memaafkan aku.  

 

Masih teringat aku, polisi datang ke tempat itu menggiring si wanita tua yang ketakutan.  Terlihat juga oleh diriku, oran-orang yang datang melihat penangkapan itu.  Dari tempatku masih kulihat anakku menjauh dariku, hilang masuk ke pusaran.

 

 

 

Sekarang aku tidak bisa membuat bunda berhenti menangis, nasi sudah menjadi bubur.  Sebelum aku mendapati bunda di kamar menangis aku juga melihat sang dewa perusak datang dengan istrinya di luar, dengan wajah murung dan tangan menggandeng istrinya “Sudahlah bunda, ini semua kesalahanku, dengan kesendirianmu kau telah memberikan yang terbaik untuk aku dan abang.  Aku yang tidak mengindahkan semua yang telah kau tanamkan pada diriku, maafkan aku bunda” aku berbisik sambil memegang pundaknya tapi dia tidak bergeming.  Suara pintu terbuka mengagetkanku dan bunda, abangku masuk, “Bunda, mari, petinya sudah akan ditutup, biarkan Dinda pergi dengan tenang”.