Archive for July, 2008

Daydreaming

Posted by: mindtraveler

Lagi pengen

- Punya kemampuan membaca pikiran kayak si Matt dari film Heroes, jadinya gue bisa tahu kalau orang tolol apa sih yang ada di pikirannya.  Atau malah dia sama sekali tidak berpikir.

- Makan segala macam makanan dan tiba-tiba badan gue mengurus dengan sendirinya.

- Cuman kerja 2 kali seminggu tapi gaji tetep

- Makan Reese’s peanut butter cups sebanyak-banyaknya tapi gak keluar jerawat.

- Ngajak keponakan2 gue bolos sekolah jalan-jalan keliling museum di Jakarta.

- Ketemu temen-temen kuliah gue, tiba-tiba kangen berat sama mereka

- Menang Jackpot USD 1 mio bebas pajak, pack my stuffs and buy a ticket to the world, traveling all by myself.

Me and My Hair

Posted by: mindtraveler

Hari Minggu abis renang, gue tiba-tiba secara impulsive pengen gunting rambut.  Kali ini keinginan gue bukan cuma trimming tapi dipotong agak pendek (dari sepinggang ke sebahu).  Berhubung gue renangya di taman anggrek, jadi gue langsung ke bawah ke tempat sekumpulan salon-salon berada.

Pertama gue liat Johny Andrean dan mikir kalau gue cuman mau trimming aja kayaknya disini gak apa-apa deh.  Tapi karena disitu sudah ramai gue membulatkan tekad untuk melakukan lebih dari sekedar trimming.  Artinya gue harus cari salon yang agak-agak bagus. 

Disisi sebelah kanan gue liat salon yang namanya udah familiar banget, tapi nyelip satu salon yang gue belum pernah denger.  Nah gue pikir pasti dari antara ini semua, mungkin ini harganya paling murah (hi…hi..hi..).  Begitu gue masuk dan tanya harga sambil ngelirik ke daftar harga, gue hampir pingsan melihat

Family Gathering di hutan pinus

Posted by: mindtraveler

resize-pinewood.JPGkebun-teh.JPG

Weekend kemarin, tepatnya tanggal 18 dan 19 Juli, gue dan teman-teman sekantor beserta keluarga mereka pergi ke Pinewood hotel di Cisarua.  Sebagai salah satu panitia gue puas banget melihat tampang-tampang bahagia temen-temen beserta anggota keluarga mereka. 

Meskipun jalan menuju hotel cukup membuat jantung berdebar karena agak-agak off road, tapi sampai disana semuanya tampak puas dengan panorama yang dipancarkan sang hotel.   Bunga warna-warni dan pohon pinus yang tumbuh di area hotel ( yah karena itulah namanya Pinewood) menyambut kedatangan keluarga besar kantor gue.

Makanannya lumayan enak dan ringan, ala makanan sehat tapi cukup mengenyangkan (lha wong gue nambah berkali-kali, gimana gak kenyang).  Acara yang disusun oleh bencong berjalan dengan sangat lancar dan semua puas dapat berperan serta karena jenis permainannya lengkap, ditujukan untuk anak, pasangan dan tentu saja tidak ketinggalan untuk para jombloers yang sexi2.  Untuk anak-anak hadiahnya diberikan dari yang menang sampai yang kalah, kalau untuk orang dewasa yah harus puas mendapat hadiah untuk yang juaranya saja.

Unfortunately, memory card gue ketinggalan, jadinya gak bisa foto candid secara dengan kamera kantor gue mesti foto ala dokumenter.  He..he…bisa ngamuk kalo gue pake buat foto candid.

Hari kedua gue sempet ikut tea walk dengan para morning people yang semangat-semangat.  Wah medannya berat banget apalagi gue belum sarapan, alhasil pada perjalanan pulang gue sempet numpang motor security hotel untuk melalui tanjakan yang cukup curam dan berbahaya (ayng ini gue booong).  Yah, gitu deh jalannya 4 km tapi sarapannya buat jalan 10km.

Sayangnya semua ini berjalan terlalu singkat karena kita semua kayaknya masih belum puas mengenyam kebersamaan (halah…).  Oh ya, ada yang pasti akan balik ke situ karena dapet doorprize menginap satu malam di hotel hutan pinus (ngelirik ke bencong)

Anyway, gue puas banget melihat all the happy faces.

 

Kartu Tarot Baru

Posted by: mindtraveler

Weekend kemarin dapat 2 tarot baru sekaligus, yang satu dari Anette adik gue yang baru pulang dari Belanda dan yang satu lagi dari Mirah adiknya Dian yang bermukim di Norway.  Dari Belanda gue dapet Dochters van de Maan yang artinya Daughters of the moon-nya Ffiona Morgan.  Tidak seperti kartu pada umumnya, kartu ini bentuknya bulat dan jumlahnya juga cuman 75 karena kartu ini menghilangkan tokoh King pada bagian kartu kerajaannya.  Maklum konon ini kartunya para feminis, gambarnya cewek semua, para dewi-dewi dan tokoh wanita dalam cerita lainnya.

Dari Mirah gue dapet kartu Simply Tarot yang sebenarnya kartu ini unik karena dia mengikuti Rider waite tapi muka orang-orangnya diganti dengan foto orang beneran.  Dalam satu paketnya ada VCD dan buku petunjuknya,  Sayangnya gue udah punya versi ini, tapi ya tetep gue ambil aja karena gue pikir ini ini bukan kebetulan (halah, mulai lagi)

Intinya bagaimanapun juga kedua kartu ini menambah koleksi tarot gue yang kadang suka gue pandang-pandangin dan kagumin (kumat).  Thank you Minet and Mirah!

Hunting

Posted by: mindtraveler

museum-jakarta-diwaktu-malam.JPGlovely-old-city.JPGsunda-kelapa.JPGthe-old-man-and-the-ship.JPG

Hari Minggu kemarin gue ada kelas hunting 2 sesi.  Sesi pertama di pelabuhan Sunda Kelapa yang dimulai jam 6 pagi dan sesi kedua di kota tua jam 4 sore.  Kebayang nggak secara gue malam sebelum ngumpul sama temen2 gue bacain tarot sampai hampir tengah malam dan gue baru bisa tidur jam 1-an.  Huaah gue harus bangun jam 5 nyiapin sarapan bokap baru berangkat.

Gue sampai di pelabuhan agak telat sekitar jam 6.20 dan momen matahari terbitnya udah hampir hilang.  Ternyata temen2 gue yang lain juga baru dateng, akhirnya gue missed momen sunrise, jadi langsung foto2 yang lain.  Gue pikir gue bakalan ngantuk dan lemes tapi ternyata gue lumayan semangat (thank to bikram yoga) dan hampir gak ngerasain pegel dan capek.

Kita juga naik perahu ke pasar dermaga yang menuju pasar ikan.  Gilaaaa gue seneng banget, kayaknya gue mesti kesitu lagi.  Trus kita potret2 di pasar.  Terakhir gue ke palabuhan Sunda Kelapa itu adalah pada saat SD. 

Tepat jam 9-an kita bubar dan ketemu lagi jam 4 di depan Musem Jakarta.  Hunting yang berikut ini juga memakan waktu 3 jam dan walau gue udah cukup sering ke sini gue baru menemukan beberapa spot yang bagus untuk di foto. 

Intinya, that was one of the best ways to spend my Sunday!

 

Untukmu

Posted by: mindtraveler

Sudah sepuluh purnama aku pergi jauh, ada kerinduan yang sesak di dada .  Bukan aku tidak mencintainya lagi tetapi setelah tiga tahun menjadi seorang suami dan ayah, aku seperti kehilangan diriku.  Putraku menghilangkan penatku setiap aku melihat wajah tah berdosanya dan istriku menyapu lelahku dengan senyum sejuknya.  Bukannya aku tidak bersukur dengan anugrah ini tetapi jauh di lubuk hati ini aku menyimpan dendam rindu terhadap seseorang yang tidak bisa kugapai karena aku bukan diriku.

 

Dia telah kukenal jauh sebelum aku mengenal istriku.  Wajahnya lembut terawat seperti bayi dan matanya jernih sehingga kadang aku bisa melihat bayanganku disana.   Pertemuan yang tidak terduga dari seorang teman berkembang membuat kami semakin dekat dan menjadi sahabat baik; tangisnya adalah tangisku, berdua kami memaknai persahabatan kami yang dalam dan tulus sebagai suatu hadiah yang tak ternilai.  Baginya aku adalah sahabat yang diturunkan dari surga karena bisa mengerti dan menerima dirinya.

 

Di suatu malam yang dingin sehabis hujan, alam ternyata menciptakan suasana yang menstimulasi kami berdua untuk meningkatkan persahabatan ini ke jenjang yang lebih indah.  Kala itu aku baru saja mengantarnya pulang ke rumah setelah upacara penguburan ibunya.  Sudah lebih dari lima tahun dia tidak berbicara dengan ibunya karena sebuah pertengkaran yang sangat hebat telah memutuskan keinginan mereka untuk saling berbicara lagi.  Hari itu ketika dia mendengar kematian ibunya, dia hanya termangu dan tidak ada setitik air matapun bahkan di upacara penguburan sehingga menimbulkan kasak kusuk orang-orang sekitarnya.  Dia juga menolak untuk menginap di rumah ibunya malam itu, malah dia memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumanhya sendiri.

 

Malam itu diiringi petir yang menggelegar dan suara hujan yang meraung, dia menangis pilu menumpahkan semua air mata dan kesedihan yang telah dia tahan begitu lama.  Aku pinjamkan bahu ini menumpahkan penyesalan dan rindunya pada sang bunda.  Suasana haru, duka , kehilangan dan kebutuhan menstimulasi kami berdua untuk mengukuhkan persahabataan kami ke jenjang yang lebih indah menuju puncak kepuasan cinta.  Itulah malam dimana aku menemukan diriku yang sesungguhnya, diriku yang mencintainya tanpa batas. 

 

Yah, itu masa lalu dan aku telah meninggalkan anak dan istriku untuk menemuinya lagi dan sebenarnya mencoba untuk menemukan diriku juga.  Aku sadar tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan aku tidak berharap kalau dia masih menungguku.  Seorang lelaki gagah telah mengganti tempatku tetapi dari matanya aku bisa tahu jika dia masih merindukanku.  Karena mata itulah aku memutuskan untuk mengambil kontrakan yang dekat dengan rumahnya.  Disitulah dalam pengembaraanku meninggalkan anak istriku, aku kembali menemukan diriku yang hilang seketika dia dalam pelukanku.

 

Semuanya begitu sempurna sampai akhirnya dia memutuskan untuk  menyempurnakan hubungan ini dengan  memberitahu si lelaki gagah bahwa dia harus pergi dari kehidupannya.  Malam itu setelah kepergian si lelaki gagah, aku resmi pindah ke rumahnya mengejar ketinggalan kami menjelajahi satu sama lain. 

 

Saat ini aku merenung menatap anakku yang terlelap disamping istriku.  Perlahan kubelai pipinya dan kukecup keningnya menahan air mata.  Aku berharap suatu hari anakku dapat mengerti.  Dengan hati-hati pula aku sebelum aku beranjak kusentuh lembut lengan istriku perempuan yang setia menemani aku selama ini.  Masih kulihat matanya yang terpejam bengkak karena tangisan yang masih tersisa dari hati pasti masih pedih.  Maafkan aku, bukan keinginanaku untuk melakukan ini.  Andai saja sebelumnya untuk memiliki keberanian untuk memilih.

 

Berhati-hati aku keluar dari rumah istriku dan berjalan perlahan-lahan aku menuju rumah kekasihku.   Dia yang aku rindu dan kupilih untuk menemani diriku yang telah kutemukan.   Rumahnya gelap dan terlihat sepi seperti tidak ada orang , sayup-sayup terdengar suara musik yang menyayat hati dari luar.  Aku melangkah masuk dan hati-hati menuju ke kamar.  Disana dia duduk dengan air mata yang tergenang membasahi cambang dan janggutnya yang tampaknya sudah lama tidak dicukur.  Aku ingin ikut menangis bersamanya dan memeluknya, kucoba untuk menjamahnya tanganku selalu lolos dan tidak pernah berhasil bertumpu pada wajah dukanya.  Maafkan aku kekasih, seminggu yang lalu sang lelaki gagah datang mengunjungiku di rumah kontrakanku yang lama.  Ketika itu aku mengambil sisa-sisa barangku untuk dipindahkan ke rumah kita berdua.  Hal yang terakhir yang kuingat adalah sebilah pisau yang menancap di perutku dan banyangan wajahmu sebelum aku lepas dari tubuhku.  Percayalah kekasih, aku akan selalu menjagamu disini.

Kangen

Posted by: mindtraveler

Gue kangen berat sama keponakan gue yang 2 ekor itu.  Biasanya liburan gini gue ambil cuti beberapa hari dan ngajakin mereka jalan-jalan.  Tapi tahun ini karena adanya factor internal keluarga mereka, maka gue gak bisa ambil dua ekor pesut itu untuk jalan-jalan sama gue. 

Duh…gue kangen.