Sudah sepuluh purnama aku pergi jauh, ada kerinduan yang sesak di dada . Bukan aku tidak mencintainya lagi tetapi setelah tiga tahun menjadi seorang suami dan ayah, aku seperti kehilangan diriku. Putraku menghilangkan penatku setiap aku melihat wajah tah berdosanya dan istriku menyapu lelahku dengan senyum sejuknya. Bukannya aku tidak bersukur dengan anugrah ini tetapi jauh di lubuk hati ini aku menyimpan dendam rindu terhadap seseorang yang tidak bisa kugapai karena aku bukan diriku.
Dia telah kukenal jauh sebelum aku mengenal istriku. Wajahnya lembut terawat seperti bayi dan matanya jernih sehingga kadang aku bisa melihat bayanganku disana. Pertemuan yang tidak terduga dari seorang teman berkembang membuat kami semakin dekat dan menjadi sahabat baik; tangisnya adalah tangisku, berdua kami memaknai persahabatan kami yang dalam dan tulus sebagai suatu hadiah yang tak ternilai. Baginya aku adalah sahabat yang diturunkan dari surga karena bisa mengerti dan menerima dirinya.
Di suatu malam yang dingin sehabis hujan, alam ternyata menciptakan suasana yang menstimulasi kami berdua untuk meningkatkan persahabatan ini ke jenjang yang lebih indah. Kala itu aku baru saja mengantarnya pulang ke rumah setelah upacara penguburan ibunya. Sudah lebih dari lima tahun dia tidak berbicara dengan ibunya karena sebuah pertengkaran yang sangat hebat telah memutuskan keinginan mereka untuk saling berbicara lagi. Hari itu ketika dia mendengar kematian ibunya, dia hanya termangu dan tidak ada setitik air matapun bahkan di upacara penguburan sehingga menimbulkan kasak kusuk orang-orang sekitarnya. Dia juga menolak untuk menginap di rumah ibunya malam itu, malah dia memintaku untuk mengantarnya pulang ke rumanhya sendiri.
Malam itu diiringi petir yang menggelegar dan suara hujan yang meraung, dia menangis pilu menumpahkan semua air mata dan kesedihan yang telah dia tahan begitu lama. Aku pinjamkan bahu ini menumpahkan penyesalan dan rindunya pada sang bunda. Suasana haru, duka , kehilangan dan kebutuhan menstimulasi kami berdua untuk mengukuhkan persahabataan kami ke jenjang yang lebih indah menuju puncak kepuasan cinta. Itulah malam dimana aku menemukan diriku yang sesungguhnya, diriku yang mencintainya tanpa batas.
Yah, itu masa lalu dan aku telah meninggalkan anak dan istriku untuk menemuinya lagi dan sebenarnya mencoba untuk menemukan diriku juga. Aku sadar tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan aku tidak berharap kalau dia masih menungguku. Seorang lelaki gagah telah mengganti tempatku tetapi dari matanya aku bisa tahu jika dia masih merindukanku. Karena mata itulah aku memutuskan untuk mengambil kontrakan yang dekat dengan rumahnya. Disitulah dalam pengembaraanku meninggalkan anak istriku, aku kembali menemukan diriku yang hilang seketika dia dalam pelukanku.
Semuanya begitu sempurna sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyempurnakan hubungan ini dengan memberitahu si lelaki gagah bahwa dia harus pergi dari kehidupannya. Malam itu setelah kepergian si lelaki gagah, aku resmi pindah ke rumahnya mengejar ketinggalan kami menjelajahi satu sama lain.
Saat ini aku merenung menatap anakku yang terlelap disamping istriku. Perlahan kubelai pipinya dan kukecup keningnya menahan air mata. Aku berharap suatu hari anakku dapat mengerti. Dengan hati-hati pula aku sebelum aku beranjak kusentuh lembut lengan istriku perempuan yang setia menemani aku selama ini. Masih kulihat matanya yang terpejam bengkak karena tangisan yang masih tersisa dari hati pasti masih pedih. Maafkan aku, bukan keinginanaku untuk melakukan ini. Andai saja sebelumnya untuk memiliki keberanian untuk memilih.
Berhati-hati aku keluar dari rumah istriku dan berjalan perlahan-lahan aku menuju rumah kekasihku. Dia yang aku rindu dan kupilih untuk menemani diriku yang telah kutemukan. Rumahnya gelap dan terlihat sepi seperti tidak ada orang , sayup-sayup terdengar suara musik yang menyayat hati dari luar. Aku melangkah masuk dan hati-hati menuju ke kamar. Disana dia duduk dengan air mata yang tergenang membasahi cambang dan janggutnya yang tampaknya sudah lama tidak dicukur. Aku ingin ikut menangis bersamanya dan memeluknya, kucoba untuk menjamahnya tanganku selalu lolos dan tidak pernah berhasil bertumpu pada wajah dukanya. Maafkan aku kekasih, seminggu yang lalu sang lelaki gagah datang mengunjungiku di rumah kontrakanku yang lama. Ketika itu aku mengambil sisa-sisa barangku untuk dipindahkan ke rumah kita berdua. Hal yang terakhir yang kuingat adalah sebilah pisau yang menancap di perutku dan banyangan wajahmu sebelum aku lepas dari tubuhku. Percayalah kekasih, aku akan selalu menjagamu disini.
Recent Comments