Posted by: mindtraveler
February 14 2010, Sunday
Lima tahun biasanya batas waktu dimana saya mulai merasakan kegelisahan yang memuncak di tempat kerja. Saya mulai melihat ke belakang dan berpikir kedepan. Apa saja yang sudah saya pelajari lima tahun terakhir ini, akankan saya mendapatkan pembelajaran yang lebih jika saya bertahan di tempat yang sama?
Pekerjaan sekarang ini merupakan pekerjaan kedua yang melampaui waktu lima tahun. Saya pernah melampaui waktu lima tahun itu dan bertahan sampai dua tahun kemudian dan itupun bukan karena saya memiliki pekerjaan yang baru tapi karena saya sampai di satu titik untuk bilang cukup. Pengajuan berhenti saya cukup membuat shock beberapa orang pada saat itu. Well bagi saya ketika pikiran, perasaaan dan logika tidak bisa saya satukan lagi biasanya pemenangnya adalah si perasaan, maka secara impulsive dan gagak berani menagmbil tindakan yang dianggap sebagian besar orang sebagai tindakan nekat dan gila. Bagaimana tidak pada saat itu saya lakukan ketika atasan saya yang baru mulai memberikan karir path (setiap dapat atasan baru dapat career path baru) yang saya yakin akan berakhir di lorong waktu tidak peduli bagaimana selama tahun-tahun ini saya membuktikan bahwa saya mampu.
Sekarang saya dihadapi dilemma yang sama bedanya umur saya bertambah, nekat dan kegilaan masih ada tapi logika saya semakin mendominasi. Titik lima tahun ini akan saya buat sebagai waktu rawan dimana saya harus sudah mempersiapkan apa yang akan dilakukan berikutnya, will I stay or will I go. Keputusan apapun yang saya buat membutuhkan pemikiran yang jernih karena keduanya tetap mambutuhkan persiapan yang matang untuk menjalaninya.
Tempat kerja bagi saya bukan hanya tempat untuk mencari nafkah, lebih dari itu saya selalu menganggapnya sebagai sekolah tempat menimba ilmu. Ilmu yang kita dapat semasa kuliah tidak akan pernah matang jika tidak benar-benar dijalankan dengan kasus and persoalan yang ril. Harus diakui beberapa kepribadian saya juga hasil dari hal-hal yang saya alami di tempat kerja sehingga ketika tempat kerja sudah tidak memberikan efek pendewasaan bagi saya baik secara kepribadian maupun ilmu maka kegelisahan yang maha dasyat itu mulai menghantui.
Di titik ini mulai detik dan menit ini saya akan mulai merenungkan dan kemudian bertindak atau melakukan perubahan bila perlu. Apapun yang saya pilih keduanya sulit untuk saat ini!
Posted by: mindtraveler
February 12 2010, Friday
Dua sahabat Lisa Virgiano dan Sari Hartono kembali sukses menyelenggarakan acara ‘Underground Secret Dining” (USD) yang ke 8 (delapan) pada hari Minggu 31 Januari. Sesuai dengan temanya “makanan Kalimantan Barat” , acara di ini didakan di anjungan Kalimantan Barat Taman TMII.
USD sendiri merupakan acara bulanan yang digawangi oleh duo Lisa dan Sari untuk mengajak para pencinta kuliner mengapresiasi makanan local yang hampir tidak ada di pasaran ataupun makanan yang sulit ditemui di restoran-restoran besar. Biasanya ketika email disebar para undangan belum tahu makanan jenis apa yang akan disajikan dan dimana akan diselenggarakan. Para undangan dibuat penasaran dengan diberikannya petunjuk yang sangat minim tentang tempat dan jenis makanan. Keterangan lengkap dan jelas baru kemudian akan diberikan lewat email ataupun sms sehari sebelum acara.
Pembukaan dilakukan oleh Lisa sebagai si empunya acara dengan keterangan memberikan penjelasaan secara singkat tentang bahan-bahan makanan yang disajikan, metode pembuatan dan budaya yang mempengaruhi makanan tersebut.. Selanjutnya para tamu juga disuguhi tarian khas Dayak dan Melayu Kalimantan Barat sebelum acara yang ditunggu-tunggu yaitu mencicipi makanan dimulai. Dengan menyisipkan kedua tarian ini semakin menambah atmosfer Kalimantan ke dalam acara yang telah disusun dengan apik oleh duo ini.
Makanan Kalimantan Barat sendiri banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, Melayu dan Barat. Hal ini terlihat dari jenis makanan yang telah dihidangkan: ayam bakar Pontianak, yang diklaim sebagai bukan ayam bakar biasa karena dibuat dengan metode memasak yang lama agar semua bumbu tercampur dengan sempurna. Ikan asam pedas yang rasanya segar dan ringan walau menggunakan bumbu gulai. Dan yang paling menarik adalah gulai umbut yang dibuat dari tunas kelapa, ya tunas yang ada di pucuk pohon kelapa.. Untuk membuat gulai umbut ini sebatang pohon kelapa harus dikorbankan karena begitu tunas dipotong maka pohon ini tidak akan pernah tumbuh lagi. Rasanya sangat eksotis dan kenyataannya dari semua makanan yang tersedia gulai umbut adalah yang paling susah dicari dan susah dibuat. Untuk acara ini saja khusus tunas kelapa didatangkan dari Pontianak.
Yang juga harus dicoba yaitu sambal Wadola yang terbuat dari pasta udang goreng dicampur dengan bawang, tomat dan kit kia cui yaitu jeruk nipis berukuran kecil. Kemudian ada sup daging yang cara makannya dipasangkan dengan dengan kroket singkong. Hal ini menunjukkan budaya masak barat dalam hal ini Belanda kedalam tradisi masakan Kalimantan Barat.
Hidangan penutup yang segar seperti pudding tahu fantasi dengan saus campuran nanas dan kayu manis serta air rujak menyempurnakan makan siang yang eksostis. Yang terakhir ini membuat para tamu lega karena khasiatnya sebgai peluntur minyak/lemak yang terkandung pada makanan yang disajikan.
Di penghujung acara Lisa juga mengenalkan ibu Nurhakimah sebagai orang di belakang hidangan yang istimewa ini. Beliau asli dari Pontianak dan bekerja di anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia Indah. Kolaborasi Lisa cs dengan ibu Nurhakimah telah membuat para peserta bertambah pengetahuan tentang masakan Kalimantan Barat yang bisa dibilang sulit didapatkan di kota metropolitan. Diharapkan acara-acara seperti ini bisa menumbuhkan kecintaan yang lebih besar terhadap makanan lokal yang hampir hilang. Salut untuk duo Lisa dan Sari yang dengan caranya sendiri membantu mengkampanyekan budaya mencintai makanan local.
Recent Comments